Membangkitkan Semangat Guru bersama DDV Jabodetabek

| | Aksi,Berita,Tulisan Relawan | views

Mengangkat tema ‘Guru Bisa’, Dompet Dhuafa Volunteer Jabodetabek sukses menggelar training untuk guru SD Dinamika Indonesia Bantar Gebang, Selasa (29/2). Sekolah Dinamika Indonesia Bantar Gebang menjadi pilihan diadakannya program ‘Guru Bisa’ sebagai upaya membangun pola pemikiran untuk mengembangkan metode pendidikan yang mengintergrasi kecerdasan akademik dengan kecerdasan emosi dan akhlak.
Menurut Sevira Rosana selaku steering committee (SC) mengatakan, “Kegiatan ini adalah kegiatan pertama dari divisi pendidikan Dompet Dhuafa Volunteer dan ini adalah satu dari empat rangkaian kegiatan pendidikan tahun ini,” ujarnya.
Kegiatan pelatihan yang diadakan pertama kali ini diperuntukkan untuk guru 15 guru beserta kepala sekolah tingkat TK dan SD Dinamika Indonesia yang sekolahnya sangat dekat dengan lokasi tempat pembuangan akhir (TPA) Bantar Gebang, Bekasi. Semangat para guru yang ikut dalam kegiatan pelatihan ini telihat saat kegiatan dimulai dengan Ice Breaking yang telah disiapkan oleh panitia.
“Aku anak Indonesia… trek…trek.. trek…king..”
“Selalu riang gembira… trek..trek..trek..king..”
“Agar aku awet muda… trek.. trek.. trek.. king….”
(lirik lagu ice breaking)
Begitulah lirik lagu saat kegiatan dimulai. Sebelum kegiatan pelatihan dimulai para guru juga diminta mengisi sebuah form angket untuk mnegetahui bagaimana sikap mereka dalam menyikapai emosional saat di kelas.
Ridzky Dharmawan selaku ketua pelaksana mengatakan, “Kita berharap semoga para guru dapat memanfaatkan dan menambah pengetahuan baru tentang Emotional Management.”
Membahas permasalahan Emotional Management, kegiatan ini sukses menggandeng Maya Sita Darlina. S.Psi., M.Psi., sebagai pemateri pada pelatihan dan sebanyak 15 guru yang mengajar dari tingkat TK dan SD. Para guru disuguhi materi terkait bagaimana cara mengelola emosi dan stress. “Dalam keseharian sebagai seorang guru, tentu saja ada banyak permasalahan yang dapat memicu stress ketika mengahadapi siswa. Untuk itu, perlu tindak lanjut bagi seorang guru agar dapat mengelola stress sebelum menjadi sebuah drama yang berlarut hingga menghasilkan sebuah trauma” ujarnya saat mengampaikan materi.
Ada tips yang diperolah peserta pelatihan sebgaai upaya menghindari stress saat di kelas. Bunda Maya, sapaan akrab psikolog menjelaskan bahwa hal pertama yang harus dilakukan saar stress adalah mampu mengenali stressor atau penyebab munculnya tes tersebut. Hal kedua yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan healing, yaitu teknik pengambilan naskah dalam-dalam, berzikir, atau cara lainnya yang membuat rileks. Adapun langkah terakhir selanjutnya ketika pikiran telah tenang, yakni dengan menyelesaikan permasalahan yang menjadi sebab stress.
Di akhir pelatihan, pemateri memberikan simulasi terkait assesmen poin of you (POY) untuk mengingatkan kembali tujuan utama para guru mempunyai niat mulia menjadi seorang pengajar serta kemampuan apa yang perlu dikembangkan sebagai seorang guru. Maya menegaskan pada pelatihannya bahwa, “Setelah asesmen ini, peserta diharapkan mengingat kembali apa tujuan utama menjadi seorang tenaga pendidik.” Selanjutnya, kegiatan ditutup dengan makan dan foto bersama peserta, pemateri, dan panitia. *Suci

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *